Gunung Kidul, 8 Agustus 2026 — Dalam rangka peringatan 25 tahun Universitas Gunung Kidul, salah satu rangkaian kegiatannya adalah penyelenggaraan Workshop Sinema Digital: Estetika, Hukum, dan Industri yang berkolaborasi dengan Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (KAFEIN). Mahasiswa dan anggota Komunitas Gunung Kidul Menginspirasi menjadi peserta yang berfokus pada pelatihan teknik penulisan naskah dan produksi video kritik film. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu 8 Agustus 2026 di Aula Kampus 2 Universitas Gunung Kidul ini menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan mengapresiasi, menganalisis, sekaligus memproduksi video kritik film dalam ekosistem sinema digital.

Workshop tersebut juga dihadiri oleh mahasiswa undangan yang berasal dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Universitas Cendekia Mitra Indonesia selaku anggota Sedulur Limo. Kehadiran peserta dari berbagai institusi dan komunitas memperlihatkan antusiasme generasi muda terhadap perkembangan sinema digital sekaligus pentingnya literasi film di tengah semakin luasnya produksi dan distribusi konten audiovisual.

Kegiatan mendapat sambutan positif dari Rektor Universitas Gunung Kidul, Dr. Sugiyanto, S.Sos., M.M. Menurutnya, kegiatan semacam ini merupakan nutrisi bagi mahasiswa, terutama untuk mengembangkan karakter berpikir kritis dalam mengamati fenomena yang dihadirkan melalui film. Peserta didorong berani untuk berkarya dan merespons kemajuan teknologi serta industri sinema digital. “Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mendorong keaktifan mahasiswa dalam berkarya sehingga dapat merespons dan mengikuti kemajuan sinema digital,” ujar Dr. Sugiyanto. Sejalan dengan hal tersebut, dalam sambutannya, Dyna Herlina Suwarto, Ph.D selaku Ketua KAFEIN menekankan pada pentingnya menjadi penonton film aktif yang dapat menyampaikan pendapatnya secara kritis, argumentatif dan beretika.

Workshop diawali dengan pemutaran tiga film pendek, yaitu Para Penerbang RohTabrak Lucy, dan Bendera Putih. Pemutaran film menjadi tahap awal bagi peserta untuk merasakan film. Selanjutnya, peserta dilatih untuk mengamati aspek naratif dan sinematik dalam film sebagai bahan membangun argumentasi kritik film. Materi workshop disampaikan oleh tiga narasumber, yaitu Citra Dewi Utami dari ISI Surakarta, Budi Dwi Arifianto dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Debby Dwi Elsha dari ISI Yogyakarta. Para narasumber menjelaskan bahwa kritik film dapat bukan hanya terkait baik atau tidaknya sebuah film, namun pendapat yang dibangun secara argumentatif dan dilengkapi dengan bukti-bukti.

Pemahaman terhadap estetika, hukum, dan industri perfilman saat ini juga menjadi bagian penting dalam proses penyusunan kritik. Ketiga aspek tersebut membantu kritikus memahami teks dan konteks karya film dikreasikan. Citra Dewi Utami menjelaskan bahwa seorang kritikus penting untuk membekali diri dengan pengetahuan tentang bagaimana sebuah film diproduksi, didistribusi, dan dikonsumsi di era digital. Penilaian secara subyektif menjadi kunci pembuatan krtitik yang baik. Budi Dwi Arifianto menambahkan, penentuan fokus kritik terhadap salah satu aspek merupakan langkah sederhana bagi seorang kritikus pemula. Sudut pandang penting dalam mengembangkan kritik sebagai bentuk pernyataan. Dengan memilih satu aspek, peserta dilatih untuk fokus dalam penyampaian gagasan dan membahasnya secara mendalam dan dan terarah.

“Dalam mengkritik film, kita dapat memberikan fokus pada salah satu aspek, baik naratif maupun sinematik, agar kita dapat membangun argumentasi secara sistematis dan meyakinkan” jelas Budi.

Tidak berhenti pada pemaparan materi, workshop dilanjutkan dengan praktik menulis naskah dan produksi video kritik film. Peserta terlibat secara langsung dalam memilih film, menentukan fokus kritik, menyusun argumentasi, menentukan bukti naratif dan sinematik dari film, hingga mengemasnya menjadi video kritik yang menarik. Peserta juga aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan mengenai tahapan produksi serta strategi membuat video kritik yang menarik bagi audiens digital.

Antusiasme peserta terlihat dalam proses persiapan, perekaman, hingga penyuntingan video. Dengan arahan dari para narasumber dan fasilitator, peserta mencoba menerapkan materi yang telah diperoleh ke dalam karya audiovisual. Proses ini sekaligus memberikan pengalaman bahwa kritik film dapat dikembangkan dari bentuk tertulis menjadi bentuk video yang kreatif, informatif, dan argumentatif.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi film, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk lebih aktif memproduksi video kritik film sebagai parateks dari film itu sendiri. Menjadikan film panjang umur untuk diperbincangkan dan memberikan dampak lebih terhadap penontonnya. Dr. Catarina Wahyu Dyah Purbaningrum selaku Wakil Rektor 3 terkesan dengan penyelenggaraan program tersebut, dan mengharapkan keberlanjutan kerja sama antara Universitas Gunung Kidul dan Asosiasi KAFEIN dalam memperkuat ekosistem perfilman khususnya di Gunung Kidul melalui peningkatan kapasitas mahasiswa dalam mengapresiasi, mengkritisi, dan memproduksi video kritik film. Melalui kolaborasi institusi pendidikan tinggi dan asosiasi bidang perfilman diharapkan dapat mendinamisasi masyarakat sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk menjadi penonton aktif yang kritis dan kreator karya audiovisual yang kreatif serta bertanggung jawab.